21 July 2008

Kawat Pemanis Bikin Meringis ...

(Sumber: Koran Tempo, Rabu 4 Juni 2008)


Salah pasang kawat gigi bisa berefek gangguan kesehatan seumur hidup.

Ingin tampil manis dengan kawat gigi? Model ini tengah digandrungi remaja ataupun dewasa yang bermasalah dengan gigi. Kawat yang melintang di gigi itu tak lagi dilihat sebagai penghalang, tapi justru sebagai pemanis. Anda tak perlu terburu-buru, pertimbangkan baik-baik dokter gigi yang akan menanganinya sebelum menentukan hiasan pada kawat gigi. Sebab, kesalahan pemasangan kawat gigi (fixed appliance) tak hanya sulit diperbaiki lagi, tapi juga memicu gangguan kesehatan.

Hal ini diungkapkan Ketua Umum Ikatan Ortodontis Indonesia (Ikorti) Prof Dr Eky Soeria Soemantri, Sp.Ort. Ia mengatakan pengobatan yang salah bisa berbahaya bagi individu itu sendiri. "Jangan main-main, karena dampaknya bisa seumur hidup: kepala pusing-pusing, gangguan pada rahang, dan biasanya lebih sulit diperbaiki," Eky mengungkapkan dalam seminar Ikorti di Jakarta, Kamis lalu.


Dia mengatakan belum ada data pasien pemasangan kawat gigi yang menjalani prosedur pemasangan yang salah. Tapi Eky mengaku, setiap bulan dia selalu menerima pasien yang harus dirawat ulang akibat kesalahan dalam praktek ortodontis. "Setiap bulan saya menerima tiga hingga lima pasien dari sekitar 20 pasien yang mengalami salah perawatan. Sayangnya, kesalahan pengobatan ini baru akan dirasakan setelah bertahun-tahun," ujarnya.

Pemasangan kawat gigi memang dibutuhkan untuk memperbaiki kondisi oklusi yang tidak normal alias maloklusi (malocclusion), seperti rahang bawah terlalu maju (tonggos/protrusif)). Selain itu, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran, Bandung, ini menyebutkan, selama ini kondisi gigi berjejal (crowded teeth) sering hanya dianggap sebagai masalah yang mengganggu penampilan. Padahal gigi berjejal dan posisi rahang yang tidak harmonis bisa mengganggu kesehatan secara umum. Tapi, pada umumnya, pasien datang dengan keluhan estetika. "Jarang sekali pasien datang dengan keluhan sulit mengunyah," ujarnya.

Gangguan berupa kesulitan mengunyah dapat terjadi karena posisi gigi atau posisi rahang yang tidak harmonis sehingga timbullah gangguan. Eky menyebutkan, maloklusi yang tidak diperbaiki dengan tepat akan menyebabkan gigi berlubang (dental caries), penyakit gusi (periodontitis), kehilangan gusi dan kepercayaan diri, kesulitan mengunyah, dan permukaan gigi terkikis(atrisi). "Kondisi yang lebih berat bisa menyebabkan kerusakan pada sendi temporo mandibula (sendi antara tulang rahang dan tulang wajah) yang bisa menimbulkan sakit kepala terus-menerus atau masalah pencernaan," tuturnya.

Karena itu, bila kondisi ini dibiarkan lebih lama lagi, pasien bisa mengalami gangguan pada berat badan, sakit kepala yang sering, bahkan gangguan pencernaan. Yang paling ekstrem adalah timbulnya penyakit-penyakit sistemik, misalnya posisi gigi yang berjejal dapat menyebabkan bakteri berkembang biak di daerah-daerah yang sulit dijangkau sikat gigi.

Sebagian besar maloklusi merupakan faktor bawaan atau keturunan (herediter), dalam hal ini termasuk gigi berjejal, ruang atau celah antara gigi (multiple diastema), kelebihan atau kekurangan gigi, celah bibir dan langit (cleft lip and palate), serta kelainan pada rahang atau muka. Namun, kondisi tersebut juga bisa ditimbulkan oleh kebiasaan buruk dan faktor lain, semisal kebiasaan mengisap jari tangan sejak kecil (thumb sucking), kebiasaan menjulurkan lidah, atau kondisi pasca kecelakaan yang menyebabkan cedera pada muka (fraktur), kehilangan gigi terlalu dini (premature loss) atau gigi yang tidak pernah tanggal (persistensi), penyakit karies gigi, serta wajah tidak simetris.

Pengobatan oklusi haruslah tepat. Namun, minimnya pengetahuan masyarakat tentang kedokteran gigi kerap menimbulkan masalah. Tak sedikit ditemukan kasus malpraktek yang dilakukan oknum dokter gigi atau orang yang mengaku kompeten dalam bidang gigi. Untuk mengantisipasi itu, Eky menyarankan masyarakat lebih cermat memilih pelayanan pemasangan kawat gigi. "Banyak dokter gigi atau orang yang mengaku ahli gigi yang sebenarnya tidak kompeten melakukan pemasangan kawat gigi. Salah prosedur bisa membahayakan pasien. Jadi, berhati-hatilah memilih perawatan," ia menyarankan.

Agar tidak salah pilih, ada beberapa panduan sederhana yang bisa diikuti. Yang paling mudah, dokter yang memasang kawat gigi haruslah spesialis ortodontis (ortodontis/orthodontist) atau disingkat Sp.Ort. Ortodontis merupakan salah satu dari tujuh cabang kedokteran gigi, yang mencakup masalah pada oklusi. Untuk mendapat gelar itu, seorang dokter gigi harus mendapat pendidikan tambahan 3-4 tahun.

Keywords: ortodonti, ortodontik, ortodonsia, ortodontis, orthodonti, orthodontic, orthodontist, maloklusi, malocclusion, crowded, tooth, teeth, oklusi, occlusion.

Selengkapnya ......