23 December 2008

Rapikan Susunan Gigi Anda...


Banyak orang memiliki susunan gigi yang tidak teratur, atau istilahnya kedokterannya maloklusi (malocclusion). Ada yang ‘tonggos' (protrusif) alias gigi rahang atasnya maju, ada pula yang giginya berjejalan (crowded teeth), atau sebaliknya kecil-kecil dan jarang (diastema).

Keadaan gigi tersebut bisa mengganggu penampilan seseorang. Penderitanya sering merasa rendah diri, minder dan enggan tersenyum. Tapi yang paling penting adalah hubungannya dengan kesehatan. Gigi yang berjejal menjadikannya sulit dibersihkan, sehingga gigi bisa berlubang (karies) atau terkena penyakit radang gusi (periodontitis). Bisa juga terjadi gangguan pengunyahan, yang menyebabkan sakit kepala atau nyeri leher. Maloklusi sebisa mungkin harus diperbaiki, bukan semata demi estetika, tapi juga kesehatan gigi.


Apakah gigi Anda bermasalah? Bila Anda mempunyai susunan gigi yang tidak rapi dan ingin membuatnya lebih teratur sehingga Anda lebih percaya diri, Anda dapat menjumpai dokter gigi spesialis ortodonsi (ortodontis/orthodontist): salah satu cabang kedokteran gigi yang spesialisasinya memperbaiki susunan gigi.

Ada beberapa macam alat yang biasa digunakan, selama ini kita sering menyebutnya behel (breket/bracket) atau kawat gigi. Mungkin Anda sering menjumpai orang mempunyai gigi dengan ‘pagar' kawat. Alat tersebut adalah braces, yaitu alat orthodontic cekat (fixed appliance). Alat ini hanya bisa dipasang dan dilepaskan oleh dokter gigi saja. Sedangkan retainer adalah alat orthodonti lepasan, yang bisa dilepas-lepas oleh pemakainya.

Alat ortodonti cekat mampu membuat pergerakan yang lebih kompleks dalam kesatuan deretan gigi, yang merupakan kelebihannya dibanding alat orthodonti lepasan (removable appliance), sehingga dapat lebih mempercepat proses teraturnya gigi Anda.

Pada masa awal perawatan, mungkin Anda akan merasakan sedikit nyeri, bila perlu minumlah obat pereda sakit. Yang harus diperhatikan, Anda membutuhkan waktu dua kali lebih lama untuk membersihkan gigi, karena selain membersihkan gigi, Anda juga membersihkan kawat giginya (wire). Bila sisa makanan mengumpul di sekitar alat, akan berisiko terjadinya gigi berlubang dan radang gusi. Meskipun jarang terjadi, alat bisa rusak atau longgar, sehingga melukai mulut. Jadi sebaiknya hindari makanan terlalu keras, lengket dan manis.

Untuk keberhasilan perawatan, tingkat keberhasilannya sampai 95 persen jika pasien kooperatif dalam memeriksakan keadaan giginya. Untuk kasus yang sulit, keberhasilannya hanya bisa mencapai 90 persen.

Besarnya biaya perawatan bervariasi, tergantung dari faktor kesulitan, lama perawatan serta alat yang digunakan. Biaya yang diperlukan relatif, ada yang menganggap besar ada pula yang tidak. Yang menganggap tidak karena ia berpikir bahwa gigi adalah investasi. Biaya yang cukup besar ini dikarenakan alatnya belum diproduksi di Indonesia, sehingga masih perlu diimpor dari Amerika Serikat.

Seiring dengan perkembangan zaman dan keinginan untuk tampil lebih cantik dengan senyum yang indah , saat ini penggunaan alat orthodonti cekat ini bukan lagi hanya untuk memperbaiki fungsi gigi, tetapi sudah menjadi aksesoris. Alat ortodonthi cekat inipun semakin berkembang. Brackets bisa terbuat dari berbagai bahan, yang banyak dipakai adalah yang terbuat dari baja, adapula yang terbuat dari emas, keramik dan tersedia dalam berbagai warna.

Yang terbaru adalah yang terbuat dari porselen berwarna transparan seperti warna gigi sehingga pemakaiannya tersamar. Harganya tentu lebih mahal, konsumennya adalah mereka yang ingin tampil lebih elegan. Karet warna-warni yang banyak menghiasi kawat gigi, berfungsi untuk mengencangkan bracket, selain itu juga memberikan kesan modis pada kawat gigi, sehingga lebih disukai para remaja.

Keywords: ortodonti, ortodontik, ortodonsia, ortodontis, orthodonti, orthodontic, orthodontist, maloklusi, malocclusion, crowded, tooth, teeth, oklusi, occlusion.

Selengkapnya ......

21 July 2008

Kawat Pemanis Bikin Meringis ...

(Sumber: Koran Tempo, Rabu 4 Juni 2008)


Salah pasang kawat gigi bisa berefek gangguan kesehatan seumur hidup.

Ingin tampil manis dengan kawat gigi? Model ini tengah digandrungi remaja ataupun dewasa yang bermasalah dengan gigi. Kawat yang melintang di gigi itu tak lagi dilihat sebagai penghalang, tapi justru sebagai pemanis. Anda tak perlu terburu-buru, pertimbangkan baik-baik dokter gigi yang akan menanganinya sebelum menentukan hiasan pada kawat gigi. Sebab, kesalahan pemasangan kawat gigi (fixed appliance) tak hanya sulit diperbaiki lagi, tapi juga memicu gangguan kesehatan.

Hal ini diungkapkan Ketua Umum Ikatan Ortodontis Indonesia (Ikorti) Prof Dr Eky Soeria Soemantri, Sp.Ort. Ia mengatakan pengobatan yang salah bisa berbahaya bagi individu itu sendiri. "Jangan main-main, karena dampaknya bisa seumur hidup: kepala pusing-pusing, gangguan pada rahang, dan biasanya lebih sulit diperbaiki," Eky mengungkapkan dalam seminar Ikorti di Jakarta, Kamis lalu.


Dia mengatakan belum ada data pasien pemasangan kawat gigi yang menjalani prosedur pemasangan yang salah. Tapi Eky mengaku, setiap bulan dia selalu menerima pasien yang harus dirawat ulang akibat kesalahan dalam praktek ortodontis. "Setiap bulan saya menerima tiga hingga lima pasien dari sekitar 20 pasien yang mengalami salah perawatan. Sayangnya, kesalahan pengobatan ini baru akan dirasakan setelah bertahun-tahun," ujarnya.

Pemasangan kawat gigi memang dibutuhkan untuk memperbaiki kondisi oklusi yang tidak normal alias maloklusi (malocclusion), seperti rahang bawah terlalu maju (tonggos/protrusif)). Selain itu, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran, Bandung, ini menyebutkan, selama ini kondisi gigi berjejal (crowded teeth) sering hanya dianggap sebagai masalah yang mengganggu penampilan. Padahal gigi berjejal dan posisi rahang yang tidak harmonis bisa mengganggu kesehatan secara umum. Tapi, pada umumnya, pasien datang dengan keluhan estetika. "Jarang sekali pasien datang dengan keluhan sulit mengunyah," ujarnya.

Gangguan berupa kesulitan mengunyah dapat terjadi karena posisi gigi atau posisi rahang yang tidak harmonis sehingga timbullah gangguan. Eky menyebutkan, maloklusi yang tidak diperbaiki dengan tepat akan menyebabkan gigi berlubang (dental caries), penyakit gusi (periodontitis), kehilangan gusi dan kepercayaan diri, kesulitan mengunyah, dan permukaan gigi terkikis(atrisi). "Kondisi yang lebih berat bisa menyebabkan kerusakan pada sendi temporo mandibula (sendi antara tulang rahang dan tulang wajah) yang bisa menimbulkan sakit kepala terus-menerus atau masalah pencernaan," tuturnya.

Karena itu, bila kondisi ini dibiarkan lebih lama lagi, pasien bisa mengalami gangguan pada berat badan, sakit kepala yang sering, bahkan gangguan pencernaan. Yang paling ekstrem adalah timbulnya penyakit-penyakit sistemik, misalnya posisi gigi yang berjejal dapat menyebabkan bakteri berkembang biak di daerah-daerah yang sulit dijangkau sikat gigi.

Sebagian besar maloklusi merupakan faktor bawaan atau keturunan (herediter), dalam hal ini termasuk gigi berjejal, ruang atau celah antara gigi (multiple diastema), kelebihan atau kekurangan gigi, celah bibir dan langit (cleft lip and palate), serta kelainan pada rahang atau muka. Namun, kondisi tersebut juga bisa ditimbulkan oleh kebiasaan buruk dan faktor lain, semisal kebiasaan mengisap jari tangan sejak kecil (thumb sucking), kebiasaan menjulurkan lidah, atau kondisi pasca kecelakaan yang menyebabkan cedera pada muka (fraktur), kehilangan gigi terlalu dini (premature loss) atau gigi yang tidak pernah tanggal (persistensi), penyakit karies gigi, serta wajah tidak simetris.

Pengobatan oklusi haruslah tepat. Namun, minimnya pengetahuan masyarakat tentang kedokteran gigi kerap menimbulkan masalah. Tak sedikit ditemukan kasus malpraktek yang dilakukan oknum dokter gigi atau orang yang mengaku kompeten dalam bidang gigi. Untuk mengantisipasi itu, Eky menyarankan masyarakat lebih cermat memilih pelayanan pemasangan kawat gigi. "Banyak dokter gigi atau orang yang mengaku ahli gigi yang sebenarnya tidak kompeten melakukan pemasangan kawat gigi. Salah prosedur bisa membahayakan pasien. Jadi, berhati-hatilah memilih perawatan," ia menyarankan.

Agar tidak salah pilih, ada beberapa panduan sederhana yang bisa diikuti. Yang paling mudah, dokter yang memasang kawat gigi haruslah spesialis ortodontis (ortodontis/orthodontist) atau disingkat Sp.Ort. Ortodontis merupakan salah satu dari tujuh cabang kedokteran gigi, yang mencakup masalah pada oklusi. Untuk mendapat gelar itu, seorang dokter gigi harus mendapat pendidikan tambahan 3-4 tahun.

Keywords: ortodonti, ortodontik, ortodonsia, ortodontis, orthodonti, orthodontic, orthodontist, maloklusi, malocclusion, crowded, tooth, teeth, oklusi, occlusion.

Selengkapnya ......

22 February 2008

Kebiasaan buruk dan gigi berjejal ...


Gigi perlu dirawat sejak dini agar anak tidak mengalami gangguan tumbuh kembang gigi, di samping mempertahankan keadaan gigi yang normal, sehingga saat dewasa memperoleh oklusi gigi yang harmonis, fungsional, dan estetis. Kebiasaan mengemut makanan, minum susu dalam botol dot menjelang tidur, mengisap jari, dan penyakit talasemia merupakan beberapa faktor penyebab gangguan pertumbuhan gigi.


Oklusi (occlusion) adalah hubungan kontak antara gigi geligi bawah dengan gigi geligi atas waktu mulut ditutup. Oklusi dikatakan normal, jika susunan gigi dalam lengkung geligi teratur baik serta terdapat hubungan yang harmonis antara gigi atas dengan gigi bawah, hubungan seimbang antara gigi dan tulang rahang terhadap tulang tengkorak dan otot di sekitarnya, serta ada keseimbangan fungsional sehingga memberikan estetika yang baik.

Dalam tahap pertumbuhan gigi dan perkembangan oklusi, khususnya periode transisi pergantian gigi sulung ke gigi permanen, banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan lengkung gigi. Maloklusi bukan penyakit melainkan keadaan morfologik yang menyimpang dari oklusi normal dan standar estetika pada kelompok etnik tertentu.

Karies gigi sulung menyebabkan gigi tanggal terlalu awal (premature loss). Pergeseran gigi di sebelahnya menyebabkan penyempitan ruang pada lengkung gigi. Akibatnya, gigi permanen tidak memperoleh ruang cukup dan akan tumbuh dengan susunan gigi berjejal (crowded teeth).

Talasemia

Faktor lingkungan yang dapat menyebabkan maloklusi mencakup penyakit, status nutrisi, dan kebiasaan oral. Salah satu contoh penyakit yang dapat menyebabkan maloklusi adalah talasemia. Talasemia adalah penyakit kelainan darah yang diturunkan. Tubuh penderita tidak dapat membentuk hemoglobin dalam jumlah cukup. Selain itu, sel darah merah pecah sebelum waktunya sehingga penderita mengalami anemia berat.

Akibat anemia hemolitik, anak talasemia mengalami hambatan tumbuh kembang fisik (berat dan tinggi badan kurang) serta hambatan pertumbuhan tulang penyangga gigi. Rahang bawah pendek sehingga muka bagian atas tampak maju. Pertumbuhan vertikal juga terganggu sehingga tampak divergen, muka lebih cembung. Wajah tidak proporsional, pipi lebih tinggi, jarak kedua mata lebih lebar. Dalam kaitan itu, untuk mencegah gangguan pertumbuhan tulang dan gigi, anak perlu mendapat tranfusi darah terus-menerus agar tidak anemia.

Kebiasaan minum susu dengan botol dot menjelang tidur, bisa menyebabkan karies gigi. Laktosa dan sukrosa dalam sisa susu yang tergenang di mulut sepanjang malam, akan mengalami proses hidrolisa oleh bakteri plak menjadi asam yang kemudian melarutkan email gigi. Demineralisasi ini tidak terjadi di permukaan, melainkan di subsurface (lapisan di bawah permukaan gigi).

Permukaan gigi tampak utuh, tetapi sebenarnya lapisan di bawahnya telah larut. Demineralisasi awal tampak seperti bercak putih di gigi. Lama-lama kecoklatan, kemudian berlubang.

Untuk mengatasi, plak yang merupakan media bakteri dan sukrosa untuk menempel ke gigi dibersihkan, kemudian gigi diberi lapisan fluor untuk remineralisasi. Anak sebaiknya tidak minum susu sambil tiduran, dan minum air putih setelah minum susu. Kalau terpaksa, begitu anak tertidur, botol dot harus segera diambil dan mulut anak dikeringkan. Akibat serupa bisa terjadi pada anak yang punya kebiasaan mengemut makanan.

Gosok gigi harus dibiasakan begitu gigi mulai tumbuh. Namun, disarankan, anak di bawah tiga tahun tidak menggunakan pasta gigi, karena belum mampu berkumur—kemungkinan pasta gigi tertelan.

Pasta gigi mengandung fluor. Fluor dalam jumlah yang tepat memang membantu pertumbuhan gigi, tetapi kelebihan fluor menyebabkan dental fluorosis atau gangguan struktur email gigi. Ada bagian email yang hilang, karena mengganggu pembentukan email. Akibat struktur email lemah, rapuh, dan mudah erosi.

Keywords: ortodonti, ortodontik, ortodonsia, ortodontis, orthodonti, orthodontic, orthodontist, maloklusi, malocclusion, crowded, tooth, teeth, oklusi, occlusion.

Selengkapnya ......

Maloklusi pada anak ...

Waspadai jika gigi anak tidak tumbuh beraturan dan cenderung berjejal (crowded teeth). Gangguan ini dapat menurunkan kemampuan mereka dalam berbicara dan menggigit.

Orangtua manapun pasti menginginkan buah hatinya tumbuh menjadi seorang anak yang baik, pintar dan berpenampilan menggemaskan plus memiliki senyuman menarik dengan barisan giginya yang putih nan rapih. Namun bagaimana bila kondisi yang terjadi sebaliknya? Supaya gigi anak tampak rapi, gigi harus tumbuh di tempat yang tepat. Tetapi, tidak jarang, kebanyakan anak-anak kini ditemui memiliki gigi yang tumbuh tidak teratur. Sehingga, menyebabkan posisi gigi-gigi tersebut menjadi berjejal. Dalam istilah medisnya situasi seperti ini disebut dengan maloklusi (malocclusion).


Anak-anak yang mengalami maloklusi memiliki gigi dan rahang yang tebentuk tidak teratur. Pengertian dari maloklusi adalah terjadinya hubungan yang tidak sesuai atau tidak pas pada gigi geligi di saat rahang atas dan rahang bawah bertemu.

Apabila anak Anda mengalami gangguan ini, sebaiknya Anda tak dapat menggangapnya sepele, karena jika tidak ditanggulangi semenjak dini, maloklusi mampu menurunkan kemampuan gigi anak untuk mengigit. Akibatnya anak tidak terbiasa memakan makanan yang sedikit keras. Sehingga pada tahap selanjutnya, otomatis dapat terjadi gangguan makan, karena gigi tidak dalam posisi yang benar sehingga kekuatannya menjadi berkurang. Maloklusi parah menyebabkan anak menjadi susah berbicara. Kondisi rahang dan gigi yang berantakan tersebut menyebabkan anak sulit mengucapkan beberapa huruf atau kata-kata tertentu.

Gejala Awal Maloklusi Pada Anak

Orang tua perlu mengetahui gejala awal dari gangguan ini. Di antaranya adalah gigi sering tumbuh di tempat yang salah, mengakibatkan gigi atas dan gigi bawah tidak bertemu dengan semestinya.

Bila Anda menemukan gejala seperti tersebut di atas, secepatnya segera membawa si kecil ke dokter gigi langganan keluarga. Untuk lebih detil dalam mengetahui kondisi gigi anak, mintalah dokter untuk melakukan sejumlah pemeriksaan. Yaitu, lakukanlah pemotretan gigi dan rahang dengan menggunakan sinar X atau rontgen. Bila diperlukan, dokter akan membuat model gips dari gigi (dental cast) dan rahang agar dapat menentukan tindakan berikut yang paling tepat demi memperbaiki kondisi gigi.

Penyebab Maloklusi
Penyebab kelainan bentuk gigi pada anak ini, adalah sebagai berikut:

1. Kebiasaan buruk (bad habit)
Kebiasaan buruk yang dimaksud adalah mengedot, menghisap jari/bibir, menyikat gigi dengan gerakan dan arah yang salah, sehingga terjadi pembusukan pada gigi yang akhirnya menyebabkan gigi berlubang.

2. Gigi berjejal (crowded teeth)
Gigi yang tumbuh dengan kondisi dempet dan tidak teratur susunannya. Hal ini disebabkan bila seorang anak dicabut sebelum waktunya dan menyebabkan keompongan dan akhirnya rahang tidak berkembang. Kondisi ini menyebabkan tempat tumbuhnya gigi tetap menjadi berkurang untuk mendapatkan posisi yang cukup.

3. Genetika (genetics)
Misalnya, ibu yang memiliki gigi kecil dan bapak yang memiliki rahang yang besar, cenderung akan memiliki anak dengan rahang kecil dan giginya besar, otomatis menyebabkan gigi berjejal.

4. Trauma

Benturan keras pada mulut dan mencenderai rahang serta gigi, juga merupakan penyebab terjadinya maloklusi.


Tips-tips mencegah maloklusi

Segera konsultasikan ke dokter gigi, bila ada melihat terdapatnya gejala-gejala awal maloklusi pada anak. Selanjutnya dokter akan menindaklanjuti dengan memberikan perawatan pemakaian kawat gigi (fixed appliance). Namun, hal tersebut juga tergantung dari umur si anak.
Menyikat gigi dua kali sehari. Sesudah makan pagi dan sebelum tidur di malam hari.
Kurangi pengonsumsian makanan-makanan yang manis.
Secara rutin periksakan gigi setiap enam bulan sekali.

Keywords: ortodonti, ortodontik, ortodonsia, ortodontis, orthodonti, orthodontic, orthodontist, maloklusi, malocclusion, crowded, tooth, teeth, oklusi, occlusion.

Selengkapnya ......

Maloklusi dan pengucapan ...

Maloklusi (malocclusion) adalah suatu kelainan susunan gigi geligi atas dan bawah yang berhubungan dengan bentuk rongga mulut serta fungsinya. Maloklusi kelas II (distoklusi) atau gigi atas lebih ke depan daripada gigi bawah akan terjadi distorsi atau penggantian suara bibir p, b, dan m sehingga apabila berbicara akan mengatupkan bibir bawah dan atas bersama-sama. Sementara itu, pada maloklusi kelas III (mesioklusi) atau gigi di rahang atas berada di belakang gigi di rahang bawah akan mengakibatkan distorsi pembicaran dan posisi antargigi untuk suara s, z, t, l, dan n.


Bicara merupakan satu cara menentukan bahasa, di antaranya dengan cara menulis, gerak tangan, dan tanda. Yang termasuk atribut bicara adalah nada suara, kekerasan dan kualitas suara, huruf hidup, huruf mati, diftong, dan campuran dari segalanya menjadi silabus kata-kata, kecepatan bicara, tekanan kata-kata, dan irama.

Proses perkembangan berbicara dan berbahasa pada bayi dan anak tidak bisa berjalan dengan sendirinya. Perlu adanya proses pembelajaran, seperti diajaknya bicara pada bayi dan anak sehingga anak mampu berkata-kata meskipun kedengaran belum begitu jelas. Oleh karena itu, anak yang terganggu pendengarannya biasanya tidak bisa bicara. Proses bicara merupakan aktivitas yang terkoordinasi antara kontraksi otot-otot pernafasan, laring, paring, palatum (langit-langit), lidah, bibir, dan gigi serta dipersarafi sistem saraf pusat.

Bicara adalah membuat dan mengelola suara menjadi simbol-simbol. Terjadinya simbol-simbol ini merupakan hasil kerja sama beberapa faktor, yaitu

- Respirasi (aliran udara) adalah diawalinya proses bicara. Dalam keadaan normal agar dapat terbentuk suara (phonasi), alat pernapasan mengalirkan udara dengan jumlah dan tekanan yang cukup.

- Phonasi adalah suara yang dihasilkan dari aliran udara keluar melalui laring, di dalam laring pita suara mengubah aliran udara ini. Dengan cara mengatur kedua pita suara (kiri dan kanan) dan juga mengatur jaraknya, terbentuk suatu celah sempit yang besar dan konturnya bervariasi sehingga menimbulkan tahanan terhadap aliran udara. Tahanan ini menyebabkan udara bergelombang sehingga timbul bunyi/suara. Suara ini disebut dengan suara laring (suara vokal).

- Resonansi adalah yang memberikan kualitas karakteristik pada bunyi gelombang suara yang ditimbulkan pita suara. Organ-organ yang berfungsi sebagai resonator adalah sinus-sinus, permukaan organ-organ, rongga paring, rongga mulut, rongga dinding, rongga dada. Suara laring yang telah mengalami resonansi ini masih belum merupakan suara bicara seperti apa yang kita dengar.

- Artikulasi (pengucapan) bertugas memodifikasi suara-suara laring tadi dan juga membentuk suara-suara baru dalam rongga mulut. Beberapa jenis konsonan yang terbentuk setelah mengalami artikulasi:

a. Suara bilabial (bibir dengan bibir): m, p, b.

b. Suara labiodental (bibir dengan gigi): f, v.

c. Suara linguodental (lidah dengan gigi): t, s, th

d. Suara linguopalatal (lidah dengan langit-langit): r, l.

e. Suara linguoapikoalveolar: n, d.

f. Suara glotis: h

Apabila tidak ada peranan artikulasi dalam pembentukan suara, yang timbul suara-suara vokal saja.

- Integrasi neurologik (koordinasi sistem-sistem saraf) yang dikoordinasi sistem saraf pusat. Faal bicara diatur dengan proses belajar dengan cara pengalaman, pendengaran, pengelihatan, dan perkembangan sistem saraf pusat. Apabila dalam faal bicara berlawanan dengan fungsi vital lainnya dari struktur maksilofasial, yang akan menderita adalah faal bicara, contohnya berbicara terpaksa berhenti segera apabila terjadi refleks penting seperti batuk, bersin, cegukan, dan muntah.

Evaluasi perkembangan bicara pada anak berpedoman pada penguasaan huruf mati yang sesuai dengan umur seperti terlihat di bawah ini:

Faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan kecakapan dan komunikasi pada anak adalah faktor-faktor keadaan, lingkungan, dan emosi anak. Apabila faktor tersebut tidak ada salah satu, perkembangan komunikasi anak akan terlambat.

Kelainan pada gigi dan mulut akan memengaruhi kejelasan bicara dan bahasa akibat adanya penyakit, gangguan atau kelainan fisik, psikis atau sosiologis. Kelainan dapat timbul pada masa sebelum lahir, saat lahir, dan masa setelah lahir yang dapat bersifat herediter (keturunan), kongenital atau dapatan.

Kelainan yang dapat memengaruhi kejelasan bicara dan bahasa adalah:

- Palatosisis (celah langit-langit), labiosisis (celah bibir) dan palatolabiosisis (celah komplit). Kelainan ini akan mengakibatkan pembicaraan menjadi sengau dan serak, suara tidak jelas, volume berkurang, sulit mengucapkan konsonan frikatif (bunyi desah), dan konsonan mati lebih sering mengalami kesalahan pengucapan.

- Kehilangan gigi atau ompong akan mengakibatkan ketidakjelasan bicara f, v, t, s, n, dan d. Pada anak-anak yang kehilangan gigi belum waktunya akan memengaruhi perkembangan bicara.

- Kelainan bentuk dan struktur organ bicara yang sering terlihat pada kelainan lidah dan palatum (langit-langit) yang memengaruhi ketelitian, rentang, dan kecepatan gerakan lidah yang mengakibatkan kesulitan bicara l, t, d, n, s, z, dan kesalahan dalam proses penelanan. Kelainan ini sering terjadi karena adanya kebiasaan buruk, seperti mengisap jari, bernapas melalui mulut, menggigit bibir, menggigit pensil dan kuku, atau adanya tonsil dan adenoid yang memengaruhi gerakan lidah.

Untuk menghindari ketidakjelasan bicara dan bahasa ini, bisa dilakukan sejak dini apabila orang tua dan tentunya dokter gigi (dentist) mengetahi adanya kelainan pada gigi dan mulut anak. Oleh karena itu, orang tua harus memperhatikan perkembangan bicara dan bahasa anak serta perkembangan gigi dan mulut pada anak.

Keywords: ortodonti, ortodontik, ortodonsia, ortodontis, orthodonti, orthodontic, orthodontist, maloklusi, malocclusion, crowded, tooth, teeth, oklusi, occlusion.

Selengkapnya ......

Tentang Ortodonsi ...


Sederhananya ortodonsi (orthodontic) adalah ilmu tentang merapikan gigi. Tujuan utamanya mengembalikan fungsi estetik (kecantikan), mastikasi (pengunyahan) dan fonetik (pengucapan).

Ketidak harmonisan gigi dapat berupa susunan gigi yang jarang-jarang, berjejal, terlalu ke depan atau ke belakang. Jika tidak cepat ditangani, kelainan itu akan mengakibatkan gigi mudah berlubang (karies) dan banyak karang gigi (calculus)sehingga gusi mudah berdarah serta menimbulkan bau mulut yang tak sedap (halitosis). Pada tahap yang lebih parah, kelainan itu bisa menimbulkan gangguan kesehatan lain seperti sakit kepala, gangguan pada otot leher dan pundak, dll.


Gigi susu yang tanggal harus dibuang ke atas (bawah) bila berasal dari gusi bawah (atas). Itu mitos pada salah satu iklan pasta gigi. Terlepas dari mitos tersebut, perawatan gigi sejak dini sangatlah penting. Gigi susu rusak memang akan diganti oleh gigi permanen. Masalahnya, gigi permanen pengganti gigi susu sering tumbuh tidak wajar. Akibatnya terjadi kelainan atau penyimpangan pada susunan gigi. Kelainan ini ini sangat mempengaruhi tampilan wajah, kesehatan gigi dan mulut, kesehatan tubuh pada umumnya, dan dapat berdampak psikologis negatif karena berkurangnya percaya diri.

Ketidakharmonisan gigi dapat berasal dari perawatan gigi yang tidak benar atau akibat kelainan fisik mulut seperti rahang atas (maxilla) terlalu maju / mundur atau miring, bibir sumbing dan banyak lagi faktor lain. Menurut data dari Departermen Kesehatan, masalah kelainan letak gigi (maloklusi) di Indonesia merupakan masalah nomor tiga terbesar setelah gigi berlubang (yang diproyeksikan diderita oleh 80% penduduk Indonesia) dan penyakit gusi. Sebagian dari kelainan di atas dapat ditangani dengan kawat gigi dan / atau bedah rahang.

Ada konsekuensi yang harus dijalankan jika memakai kawat gigi, yaitu: memelihara kebersihan gigi dengan sempurna dan menghindari tersisipnya sisa makanan serta mengikuti instruksi pemakaian dengan teratur. Kelalaian perawatan dapat berakibat penanganan bisa gagal, gigi berlubang, dan bahkan penyakit bisa menjadi lebih parah dari sebelumnya. Selain bertambah sibuk untuk memelihara kawat gigi, pemakai kawat gigi ada yang mengeluh rasa sakit. Rasa sakit sangat subjektif, bahkan anak usia 8 tahun pun dapat mentolerirkan masalah ini. Agar bisa menjalankan perawatan dengan baik, pengguna kawat gigi perlu memotivasi diri dengan mengingat manfaat yang akan diperoleh dengan menggunakan kawat gigi berupa manfaat kesehatan dan keindahan.

Secara umum perawatan gigi memang relatif mahal. Piranti dengan teknologi canggih serta peralatan mikro yang membutuhkan presisi tinggi memang mahal harganya. Selain itu, ada banyak bahan-bahan kedokteran gigi yang masih harus diimpor. Ironisnya, gips yang bahan bakunya dari alam Indonesia pun, tetap perlu diimpor. Tambahan pula, Perawatan gigi sering memakan waktu lama bahkan mencapai tahunan. Dalam perbaikan gigi dengan kawat bukan hanya satu atau dua gigi yang dirawat. Seluruh gigi perlu ditangani. Bahkan gigi yang belum tumbuh pun perlu ditangani untuk memperbaiki atau mengarahkan tumbuhnya rahang. Semua itu membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan yang cukup sulit.

Kasus-kasus dengan kelainan letak gigi yang relatif ringan dan tidak melibatkan kelainan rahang serta yang masih dapat diatasi dengan menggunakan kawat gigi lepasan (removable appliance) bisa ditangani oleh dokter gigi umum. Untuk kasus yang lebih sulit diperlukan penanganan khusus oleh dokter gigi yang mempunyai keahlian tambahan atau spesialis di bidang kasus penyakit tersebut (ortodontis). Petunjuk ini tercantum dalam Standar Pelayanan Medik dari Departemen Kesehatan RI. Para spesialis ini dididik secara resmi di fakultas kedokteran gigi. Pendidikan spesialis ortodonsi memakan waktu 3-4 tahun, dan lulusannya menjadi Spesialis Ortodonsi (Orthodonthist).




Keywords: ortodonti, ortodontik, ortodonsia, ortodontis, orthodonti, orthodontic, orthodontist, maloklusi, malocclusion, crowded, tooth, teeth, oklusi, occlusion.

Selengkapnya ......

Senyum indah.... dengan kawat gigi...


Senyum adalah aset terbesar dalam pergaulan. Senyum menawan bermula dari gigi geligi yang cantik. Sayangnya, tidak semua orang memiliki susunan gigi yang baik. Susunan gigi juga mempengaruhi bentuk wajah. Gigi yang berantakan akibat terlalu berdesakan, tongos dan nyakil bisa mempengaruhi penampilan wajah secara keseluruhan.


Profil wajah manusia dibagi dalam tiga kategori, yakni cembung, cekung dan lurus. Wajah profil cembung terbentuk akibat rahang atas lebih maju (tongos) daripada rahang bawah. Atau bisa juga rahang atas dan rahang bawah maju semua, yang disebut bimaxillary protrusion. Bisa juga rahang atas normal tapi rahang bawah kecil. Profil cekung, wajah dibentuk karena rahang bawah lebih maju daripada rahang atas (nyakil). Bisa juga karena rahang bawah normal tapi rahang atas kecil. Profil wajah yang normal dan bagus adalah yang lurus. Dalam profil ini, rahang atas dan rahang bawah berada dalam hubungan yang harmonis. Artinya, saat mulut menutup, rahang atas dan rahang bawah berada dalam satu garis.

Meski demikian, dalam profil lurus bisa saja terjadi gigi yang berdesakan (crowded teeth). Hal itu juga mempengaruhi penampilan, karena gigi terlihat acak-acak dan tidak rapi. Selain itu akan mudah terbentuk karang gigi atau mudah berlubang (karies), karena gigi lebih sulit dibersihkan secara maksimal. Pemasangan alat khusus (kawat gigi/braces/fixed appliance) untuk membantu kembalinya posisi gigi secara harmonis bisa mengatasi masalah tersebut.

Sebelum perawatan, biasanya akan dilakukan foto panoramik dan foto sefalometri dan foto profil wajah. Foto sefalometri dibutuhkan untuk mempertegas diagnosis, untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang masalah bentuk rahang pada pasien, selain itu untuk menentukan perawatan apa yang akan dilakukan.

Bila rahang atas terlalu maju, biasanya akan dilakukan pencabutan gigi rahang atas. Sebaliknya, bila rahang bawah yang maju, pencabutan dilakukan pada kedua rahang.
Dalam keadaan normal, gigi yang dicabut umumnya adalah gigi di belakang gigi taring (kaninus). Setelah dilakukan pencabutan, gigi depan ditarik mundur dengan menggunakan bantuan kawat gigi.

Lama proses penarikan bergantung pada kekompakan tulang. Namun rata-rata dibutukan waktu antara 1-2 tahun. Untuk rahang bawah yang terlalu kecil, rahang bawah dimajukan dengan alat jumping the bite. Pada gigi yang berdesakan, keputusan apakah harus dicabut atau tidak bergantung pada profil wajah pasien. Kalau profilnya sudah sempurna, tidak perlu pencabutan, cukup dengan memperbaiki susunannya saja.

Namun ada keterbatasan dalam melakukan perawatan ortodonsia, terutama bila kelainan tersebut berpangkal dari tulang (skeletal). Untuk masalah itu, selain diperlukan perawatan ortodonsi, diperlukan juga bedah ortognatik (orthognatic surgery). Tapi pada umumnya kelainan yang berpangkal pada gigi (dental) saja, karena itu perawatan ortodonsik saja sudah cukup.

Keywords: ortodonti, ortodontik, ortodonsia, ortodontis, orthodonti, orthodontic, orthodontist, maloklusi, malocclusion, crowded, tooth, teeth, oklusi, occlusion.

Selengkapnya ......

Kawat gigi... Untuk apa sih....

Belakangan ini, penggunaan kawat gigi atau dalam istilah kedokteran gigi disebut dengan kawat ortodonsi, semakin banyak dan memasyarakat. Apalagi di kalangan anak-anak dan remaja. Hal ini karena masyarakat mulai menyadari bahwa gigi mempunyai peranan penting dalam penampilan. Apa sesungguhnya kawat ortodonsi atau kawat gigi itu?


Kawat ortodonsi adalah suatu alat atau piranti yang digunakan untuk memperbaiki susunan gigi yang crowded, sesak, atau tidak teratur, agar didapatkan susunan gigi yang baik atau normal kembali. Tujuan perawatan ortodonsi adalah untuk mendapatkan oklusi -- hubungan antara gigi-gigi di rahang atas dan rahang bawah -- yang tepat atau baik, yang sehat secara fungsional, estetik memuaskan dan stabil. Gigi dengan crowding yang besar dan ketidakteraturan akan berpengaruh terhadap kesehatan jaringan periodontal (jaringan penyangga gigi), karena penimbunan sisa makanan dan kesulitan pembersihan. Sedangkan secara estetik, seseorang pasti ingin tampil lebih menarik dengan gigi-gigi yang tersusun rapi.

Faktor Penyebab
Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan ketidakteraturan pada susunan gigi? Banyak faktor yang menyebabkan susunan gigi tak beraturan, antara lain sbb.;
1. Kebiasaan buruk. Ini biasanya terjadi pada masa pertumbuhan.
* Menghisap jari, baik itu satu jari saja, biasanya jempol, atau lebih dari satu jari. Hal ini akan menyebabkan gigi maju pada bagian depan atau protrusi.

* Kebiasaan meletakkan lidah di antara gigi rahang atas dan gigi rahang bawah. Hal ini dapat disebabkan ukuran lidah yang lebih besar dari normal. Efeknya pada gigi adalah gigi depan akan maju dan renggang.

* Menggigit pensil atau membuka jepit rambut dengan gigi. Terkadang anak-anak di saat belajar mempunyai kebiasaan menggigit pensil atau pulpen, hal ini dapat menyebabkan gigi yang dipakai menggigit tadi akan keluar dari lengkung gigi yang benar.

* Kebiasaan ngedot yang sulit dihentikan, misalnya sampai usia Sekolah Dasar masih ngedot, hal ini cenderung akan mempengaruhi bentuk rahang si anak.

* Kebiasaan bernafas melalui mulut dan cara menelan yang salah.

* Pencabutan atau kehilangan gigi terlalu dini/prematur atau sebaliknya pencabutan gigi sulung yang terlambat.

2. Faktor genetik.

* Misalnya si bapak mempunyai rahang yang besar dengan gigi-gigi yang besar, sedangkan si ibu mempunyai rahang yang kecil dengan gigi-gigi yang kecil pula, mempunyai anak dengan rahang yang meniru rahang ibu dan gigi yang meniru gigi bapak. Hal ini dapat menyebabkan gigi berdesakan, atau sebaliknya si anak meniru rahang bapak dan gigi yang meniru gigi ibu, maka susunan giginya akan jarang-jarang.

3. Faktor skeletal. Faktor skeletal yaitu bentuk tulang di rahang atas dan rahang bawah yang mempengaruhi bentuk wajah, seperti bentuk rahang atas yang menonjol ke depan sehingga gigi-gigi tampak maju dan bentuk wajah menjadi cembung. Atau sebaliknya rahang bawah yang lebih pesat pertumbuhannya dibandingkan rahang atas, sehingga bentuk wajah menjadi cekung, dan terjadi gigitan terbalik.

Cara Penanggulangan
Apabila ketidakteraturan pada gigi terjadi karena kebiasaan buruk, tentunya kebiasaan buruk itu harus dihilangkan terlebih dhaulu, lalu dilanjutkan dengan perawatan orthodonsi. Pasien dapat datang ke dokter gigi umum atau spesialis ortodonsi untuk merawat gigi yang tidak beraturan. Dokter gigi nanti akan melihat kelainan susunan gigi pasien lalu merencanakan perawatan yang akan diberikan. Apabila kasus dianggap berat, biasanya pasien akan dirujuk ke dokter spesialis ortodonsi.

Terkadang ada beberapa kasus yang memerlukan tindakan bedah terlebih dahulu seperti pencabutan atau tindakan bedah lain yang dikenal dengan istilah bedah orto. Perawatan dapat dikatakan berhasil bila susunan gigi dan oklusi yang normal sudah tercapai.

Keberhasilan perawatan sangat tergantung pada hal-hal sbb.;
* Kemauan penderita yang dirawat, karena perawatan cukup lama, bisa dalam bulan atau tahun, biasanya enam bulan sampai dua tahun atau lebih.

* Kebersihan mulut penderita.

* Kasus atau tingkat keparahan dari susunan gigi.

* Kemampuan dokter gigi yang merawat, karena perawatan yang tidak tepat dapat mengakibatkan pergerakan gigi yang salah sehingga keberhasilan tidak tercapai.

Kapan seseorang mulai dapat dirawat ortodonsi? Perawatan ortodonsi dapat dilakukan pada saat gigi bergantian, bila diperkirakan susunan gigi tersebut akan berpengaruh besar di kemudian hari. Dokter gigi yang memeriksa akan menentukan kapan anak itu mulai dirawat. Perawatan ortodonsi dapat berupa alat cekat dan alat lepasan. Penggunaan kedua alat ini tergantung pada kasusnya. Pada orang dewasa, karena pertumbuhan rahang sudah maksimal, biasanya menggunakan alat cekat.

Batasan umur yang pasti tidak ada, semua itu tergantung pada kasus, keadaan jaringan penyangga gigi, kebersihan mulut, kemauan dan tentunya keuangan penderita, karena biaya untuk perawatan dengan alat cekat dapat dikatakan tidaklah murah. Bentuk alat atau piranti yang digunakan juga berbeda pada tiap-tiap kasus. Penggunaan alat ortodonsi pada masa pertumbuhan biasanya lebih cepat dari pada orang dewasa. Sehingga, alangkah baiknya sedini mungkin memeriksakan gigi anak Anda ke dokter gigi apabila dirasakan ada yang kurang normal pada susunan giginya.

Keywords: ortodonti, ortodontik, ortodonsia, ortodontis, orthodonti, orthodontic, orthodontist, maloklusi, malocclusion, crowded, tooth, teeth, oklusi, occlusion.

Selengkapnya ......

21 February 2008

Kisah Pasien yang Ingin Tampil Sempurna, namun Justru Menuai Petaka

(Sumber: Jawa Pos, Sabtu 7 Juli 2007)


Perawatan kesehatan atau kecantikan memang harus dilakukan pada dokter yang tepat. Jika salah, risikonya sangat tinggi. Hal itu dialami pasien-pasien berikut. Ada yang giginya ompong karena salah perawatan, ada pula yang tekstur wajahnya berubah.

Kasus

Jason dan Nira adalah contoh dua orang yang bermasalah karena salah prosedur perawatan gigi. Ada pula orang-orang yang bermasalah karena tergiur klinik kecantikan yang tak kapabel.


-- Kasus 1

NYERI di rahang Jason (nama samaran) memang telah berkurang. Namun, pemuda 24 tahun itu masih belum berani mengunyah makanan keras. Dia masih merasa giginya goyang dan panas.

"Saya masih harus hati-hati. Kondisi saya belum sembuh sepenuhnya," katanya ketika dihubungi via telepon. Memang, beberapa minggu ini, karyawan swasta tersebut bertugas ke luar kota.

Semua derita Jason bermula ketika dirinya ingin mendaftar sebagai polisi tahun lalu. Namun, dia sadar, dirinya bakal tak mulus untuk menjadi aparat berbaju cokelat tersebut. Sebab, giginya bermasalah. Geraham bagian belakangnya tumbuh menyamping. "Rasanya tidak nyaman. Apalagi, keduanya berlubang. Ngilu," ungkap warga kawasan Surabaya Selatan tersebut.

Demi mengenyahkan rasa sakit itu, Jason berobat ke sebuah klinik dokter gigi yang dekat tempat tinggalnya (dia menolak menyebutkan nama dan tempat klinik tersebut). Kepada dokter, dia menyatakan bahwa dirinya ingin gigi gerahamnya dicabut. Namun, kata dokter, masalahnya tak segampang itu. Menurut dokter tersebut, karena gigi itu nyelempit di belakang, harus dilakukan operasi kecil. Hari itu juga operasi dilakukan.

Alih-alih mencabut gigi yang menyamping, dokter justru mencabut gigi lain. Jason terkejut. Namun, dokter menyatakan bahwa gigi geraham depan yang dicabut tersebut tak kalah jelek daripada geraham belakang. Karena itu, gigi tersebut harus dienyahkan. Setelah itu, baru geraham belakang yang miring tersebut yang dicabut. Karena tak paham, Jason pun mengiyakan.

Setelah dua gigi dicabut, Jason disuruh pulang. Esoknya, dia harus datang lagi untuk mengoreksi gigi geraham belakang bawah sebelah kiri. Lagi-lagi, yang dicabut bukan gigi bermasalah itu. Gigi tersebut hanya ditambal. "Yang dicabut gigi di depannya," ujar pemuda yang mewanti-wanti agar jati dirinya dirahasiakan tersebut.

Tampaknya, dia masih percaya pada dokter tersebut. Terbukti, setelah tiga giginya dicabut, dirinya masih datang ke dokter tersebut. Dia ingin berkonsultasi soal giginya yang berdesakan serta sedikit protrusive (maju). Jason ingin merapikan gigi tersebut dengan cara memasang kawat (braces). Kepada dokter, dia berharap giginya bisa rapi dalam waktu singkat. Sebab, masa pendaftaran kepolisian kian dekat. "Dokter sanggup. Bahkan, dia menjanjikan gigi saya bisa rapi kurang dari setahun," tegasnya.

Supaya gigi atas dan bawah bisa rata, dokter menyatakan bahwa empat gigi Jason harus dicabut. Yaitu, gigi geraham depan (di belakang taring-premolar) atas-bawah dan kanan-kiri. "Ngeri juga. Saya baru kehilangan tiga gigi, lalu harus hilang empat lagi," katanya.

Setelah kawat gigi dipasang, berbagai gangguan mulai dia rasakan. Rahangnya nyeri berbulan-bulan. Giginya terasa goyang. Awalnya, Jason tak menghiraukan. Dia berpikir, rasa itu bisa hilang dalam beberapa hari.

Namun, alih-alih sembuh, kondisinya kian parah. Untuk membuka mulut pun, sulit. Kalau dipaksa, mulutnya hanya membuka selebar dua jari. Itu belum siksaan ketika dirinya mengunyah. "Sakit luar biasa," tegasnya.

Karena itu, Jason hanya bisa mengonsumsi makanan lunak. Misalnya, bubur atau nasi tim. Giginya pun tidak bisa berkompromi dengan lauk selain telur. "Saya hanya mengonsumsi telur selama hampir setahun," jelasnya.

Supaya tidak bosan, telur itu hanya diubah bentuk. Kalau tidak di goreng mata sapi, ya didadar. Sesekali juga mengonsumsi telur asin serta otak-otak.

Gara-gara itu, berat badan Jason berkurang empat kilogram. "Seperti orang kena penyakit parah. Padahal, hanya karena pasang kawat gigi," ujar lelaki yang mengaku mengeluarkan uang hingga Rp 12 juta untuk perawatan kawat gigi tersebut.

Bukan hanya itu, hidupnya pun semakin terasa tidak nyaman. Nyaris setiap hari dia mengalami mimpi buruk yang dipicu rasa sakit giginya. Lehernya juga terasa kaku, sehingga tidak bisa tidur nyenyak. "Rasanya seperti menghadapi bencana Lapindo yang tidak kunjung selesai," katanya berseloroh.

Sadar kondisinya semakin buruk, dia lantas berinisiatif datang ke FKG Unair untuk berkonsultasi.

Ketika diperiksa, dinyatakan bahwa kondisi Jason memang parah. Giginya miring dan goyang, gusinya pun bengkak. Malahan, ketika dipencet, gusi itu sampai mengeluarkan nanah. "Mungkin itu disebabkan dia tidak bisa membuka mulut lebar, sehingga tidak bisa menjaga kebersihan mulut dan gigi secara baik," jelasnya.

-- Kasus 2

Pengalaman pahit serupa dialami Nira (juga bukan nama asli) dua tahun lalu. Gara-gara menyerahkan perawatan kawat gigi ke dokter yang tidak tepat, dia harus kehilangan lima gigi. Memang, kondisinya tidak separah Jason. Namun, akibat pencabutan yang tidak diperlukan itu, giginya menjadi benggang-benggang (berjarak). "Saya jadi tidak bisa nyaman mengunyah. Lha gigi saya bogang," ungkap ibu muda tersebut.

Nira memang sempat menanyakan soal pencabutan giginya itu kepada sang dokter. Jawabannya sama, itu sudah prosedur pemasangan kawat.

Selain itu, sekitar enam bulan memakai kawat, hasilnya nihil. Itulah yang membuat dirinya semakin kalut. Dia khawatir giginya tidak bisa kembali normal. Akhirnya, wanita yang tinggal di kawasan tengah kota tersebut memutus tak lagi kontrol ke dokter itu.

Dia lantas datang ke FKG Unair dan disarankan ke klinik spesialis ortodonsi (orthodontics). "Untung, kata dokter, kondisi gigi saya masih bisa diperbaiki. Kalau tidak, mungkin profil wajah saya bisa menjadi cekung," tegasnya.

Nira terpaksa dirawat lagi mulai awal. "Melihat kondisi giginya, seharusnya dulu tidak perlu dicabut," jelas dokter yang sedang menyelesaikan studi spesialis ortodonsia tersebut.

Sebab, kondisi gigi Nira sejatinya tidak terlalu berdesakan. "Hanya dengan memasang kawat, gigi sudah bisa rapi sendiri," katanya.

Dari kejadian tersebut, Nira memang dirugikan secara fisik. Namun, dia juga merasa rugi waktu dan tentu materi. "Kalau saja saya langsung melakukan perawatan di dokter spesialis ortodonsi, mungkin saya tidak perlu dirawat hingga selama ini. Di tangan ahli yang tepat, bisa jadi gigi saya sudah rapi dalam setahun," ujarnya.

Keluhan-keluhan tersebut sangat sering dijumpai di Klinik Spesialis Ortodonsi Fakultas Kedokteran Gigi Unair maupun di praktik-praktik swasta para ortodontis di Surabaya.

Menurut drg Jusuf Sjamsudin Sp.Ort (K), ketua Ikorti (Ikatan Ortodontis Indonesia) Komda Jawa Timur, banyak orang yang tidak mengerti bahwa perawatan gigi yang tidak rata sebaiknya dilakukan oleh dokter gigi spesialis yang khusus, yaitu ortodontis (orthodontist). "Ortodontis adalah seorang dokter gigi yang menempuh pendidikan spesialisasi selama minimal empat tahun yang mempelajari khusus tentang perawatan kawat gigi," jelas ketua PDGI tersebut.

Yang sering terjadi di masyarakat, banyak perawatan kawat gigi dilakukan dokter gigi yang bukan spesialis ortodonsi. Hasil perawatannya jelas tidak sempurna, bahkan sering salah. "Apabila perawatan salah, akan lebih sulit dan lebih lama memperbaiki daripada sebelum dirawat," katanya.

Keywords: ortodonti, ortodontik, ortodonsia, ortodontis, orthodonti, orthodontic, orthodontist, maloklusi, malocclusion, crowded, tooth, teeth, oklusi, occlusion.

Selengkapnya ......