Subscribe

Eddy RSS Feed (xml)

Powered By

Eddy Heriyanto

Pemasangan Behel (Kawat Gigi)

(Sumber: Jurnal Dentamedia No 4 Vol 14 Okt-Des 2010)

Tindakan pemasangan alat ortodontik cekat oleh tenaga di luar dokter gigi --populer disebut pasang behel--, semakin hari semakin marak dimana-mana. Iklan penawaran pemasangan behel dengan mudah dapat ditemui di berbagai tempat, apalagi di dunia internet. Sebenarnya kondisi ini menandakan adanya peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya nilai estetis gigi, namun menjadi masalah besar karena untuk mendapatkan perawatan, mereka tidak datang ke dokter gigi tetapi ke orang-orang yang sama sekali tidak memiliki kompetensi melakukan perawatan ortodontik.


Adanya "tindakan perawatan gigi" oleh bukan dokter gigi sejatinya adalah sebab kemudian Belanda mendirikan STOVIT di Surabaya, mereka gerah dengan tindakan para Tandmeester (tukang gigi) yang membahayakan masyarakat. Masalah ini kemudian menjadi salah satu agenda perjuangan awal PDGI yang dipimpin Prof. Soeria Soemantri, sampai akhirnya berhasil membuat Departemen Kesehatan RI mengeluarkan Permenkes No. 53/DPK/69 yang semangatnya adalah menghilangkan profesi tukang gigi secara alami dengan cara tidak memberi izin tukang gigi baru.

Dengan permenkes itu seharusnya permasalahan selesai, namun ternyata saat ini mereka malah semakin banyak. Pelayanan yang diberikanpun semakin berkembang, bukan hanya membuat gigi tiruan lepasan tetapi juga gigi tiruan cekat, penambalan, serta yang saat ini sedang populer adalah pemasangan behel. Dan ternyata pelaku pemasangan behel bukan hanya dari kalangan tukang gigi saja tetapi juga mereka yang menamakan diri ahli gigi, ahli behel, asisten drg, salon kecantikan, serta ibu rumah tangga biasa. Silahkan buka di jejaring sosial facebook, mereka bahkan membuat grup tersendiri.

Ini semua tentu amat membahayakan masyarakat, yang ternyata belum faham --termasuk aparat-- bahwa pemasangan alat ortodontik adalah sebuah tindakan medis yang hanya boleh dilakukan oleh dokter gigi.

Sudah saatnya kalangan dokter gigi yang tentu saja diwakili oleh PDGI untuk segera membereskan masalah ini. Pemasangan alat ortodontik sebagai tindakan medis perlu disosialisasikan kepada masyarakat secara meluas dan terus menerus, selain itu perlu advokasi kepada pihak POLRI serta Dinas Kesehatan di semua Kabupaten/Kota tentang hal yang sama, sehingga bila ada bukan dokter gigi yang melakukan pemasangan alat ortodontik bisa dikenakan tuduhan pelanggaran terhadap Undang-Undang tentang Praktik Kedokteran.

Seorang ahli hukum kesehatan Suryono, drg., SH., PhD. dalam sebuah majalah kedokteran gigi mengatakan, apabila terus dilakukan pembiaran terhadap pemasangan alat ortodontik oleh bukan dokter gigi maka tindakan ini bisa menjadi dianggap benar, hal ini sejalan dengan kaidah hukum die normative de craft des factisien. Sebagai contoh adalah pembuatan gigi palsu oleh tukang gigi yang tidak akan bisa lagi dipidanakan karena telah berlangsung secara terus- menerus di masyarakat sejak lama tanpa pernah ada yang merasa keberatan secara hukum.

Selengkapnya ......

FAQ (Pertanyaan Paling Sering) Seputar Kawat Gigi...

Mungkin sudah tidak asing lagi jika kita bertemu dengan seseorang yang memakai kawat gigi. Saat ini pemakaian alat yang bertujuan untuk merapikan gigi yang susunannya tidak teratur ini sedang menjadi trend atau gaya hidup di berbagai kalangan, misalnya selebritis, anak muda, bahkan orang tua pun tidak sedikit yang memakainya.
Namun ada beberapa pertanyaan yang sering dilontarkan oleh mereka yang ingin memakai kawat gigi ini, bahkan tidak sedikit yang tidak jadi merawat giginya karena salah menerima informasi tentang pemakaian kawat gigi.


Berikut ini adalah pertanyaan yang paling sering ditanyakan:

1. Apakah sakit jika memakai kawat gigi?
Jawaban:
Pemakaian kawat gigi tidak menyebabkan rasa sakit. Yang benar adalah rasa ngilu (bahasa jawa= kemeng) sedikit, itupun hanya terasa pada awal perawatan dan hanya berlangsung 1-2 hari, setelah itu tidak terasa apa-apa lagi, normal seperti biasa.

2. Apakah tidak bisa makan seperti biasa (harus makan bubur)?
Jawaban:
Pemakaian kawat gigi tidak menyebabkan kita tidak bisa makan seperti biasa atau mesti makan bubur. Makan seperti biasa saja, makan ayam, daging, ikan, sayur, buah, roti, dsb. Hanya saja makannya mesti dengan memotong kecil-kecil makanan (suir) dan tidak menggigit makanan secara langsung.

3. Apakah breket memang sering lepas?
Jawaban:
Jika breket, bahan perekat breket dan tehnik pemasangan breket dilakukan dengan benar maka kecil atau jarang sekali terjadi breket lepas. Kalaupun lepas biasanya oleh karena hal-hal yang ekstrim, misalnya makan makanan yang keras, misalnya kripik yang keras, atau kena benturan misalnya kena bola basket atau terjatuh.

4. Berapa lama waktu perawatan dengan kawat gigi?
Jawaban:
Waktu perawatan dengan kawat gigi biasanya berkisar 1,5 - 2 tahun. Malah jika kasusnya ringan bisa selesai kurang dari setahun (misalnya kasus tanpa pencabutan gigi).

5. Apakah kawat gigi menyebabkan gigi berubah warna?
Jawaban:
Jika pemasangan breket dilakukan dengan benar maka tidak akan menyebabkan berubahnya warna gigi. Tetapi harus juga diimbangi dengan kebersihan gigi dan mulut dari pemakai itu sendiri (menggunakan sikat gigi khusus dan teknik menyikat gigi yang khusus pula).

Demikian semoga bermanfaat...

Keywords: ortodonti, ortodontik, ortodonsia, ortodontis, orthodonti, orthodontic, orthodontist, maloklusi, malocclusion, crowded, tooth, teeth, oklusi, occlusion

Selengkapnya ......

Spesialisasi di Kedokteran Gigi...

Semua orang tau, bahwa ada banyak spesialisasi di bidang kedokteran. Tetapi tidak semua orang tau hal itu berlaku juga di bidang kedokteran gigi, meski tentu saja tidak sebanyak spesialisasi di bidang kedokteran. Sistem kesehatan di Indonesia, menyebabkan pasien bebas memilih sendiri pergi ke dokter siapa, spesialis A atau B, meski terrkadang ketika pasien memutuskan sendiri, penyakitnya belum tentu cocok dengan kompetensi dokter spesialis tersebut.


Tapi, ya bagaimana lagi. Begitulah sistem yang berlaku, meski seharusnya pertama-tama pasien harus datang ke general practitioner dulu, baru ketika dokter GP tersebut tidak berwenang dan berkompeten menangani kasus tersebut, pasien dirujuk kepada dokter spesialis.

Mengingat sistem yang demikian, sebagai pasien yang cerdas, harusnya kita semua mengerti juga, apa saja sih spesialisasi di bidang kedokteran gigi. Contoh paling gampang, tidak mungkin bukan, ketika anda hamil, anda pergi ke dokter spesialis penyakit dalam untuk memeriksakan kehamilan anda. Anda pasti pergi ke seorang dokter kandungan.

Demikian juga halnya jika kita sakit gigi. Seseorang yang mengalami gangguan pada daerah gigi dan mulutnya dalam kualifikasi yang tidak bisa ditangani oleh general practitioner, juga harus dirujuk atau pergi ke dokter gigi spesialis yang berkompeten.

Berikut adalah informasi pendek mengenai spesialisasi di Kedokteran gigi :

1. Bedah Mulut (Sp.BM)
Menangani berbagai kasus di daerah gigi dan mulut yang memerlukan tindakan bedah untuk terapinya yang terbagi menjadi bedah minor dan bedah mayor. Contoh Bedah minor : operasi gigi geraham ke-3 (impaksi molar-3) yang tumbuh tidak sempurna, miring atau tertanam seluruhnya (embeded.)Contoh Bedah mayor : terapi pengangkatan tumor, retak/patah (fraktur) rahang, operasi bibir sumbing.

2. Oral Medicine (Sp.OM)
Bisa dikatakan spesialisasi ini adalah seperti internis atau ahli penyakit dalam-nya kedokteran gigi. Berkaitan dengan penyakit-penyakit di rongga mulut. Misal : cancer, adanya manivestasi virus HIV di rongga mulut, jamur, termasuk juga gerodontology atau manifestasi proses penuaan di rongga mulut.

3. Konservasi Gigi (Sp.KG)
Spesialisasi yang menangani masalah restorasi gigi (esthetic restoration)termasuk perawatan terhadap kelainan jaringan syaraf. Sehingga secara garis besar mencakup tindakan Operative Dentistry (misal : menambal gigi yang belubang, melakukan restorasi jaket, pelapisan gigi yang mengalami perubahan warna, bleaching atau pemutihan gigi)dan endodontic (perawatan kerusakan jaringan syaraf atau yang disebut pulpa gigi, termasuk juga tindakan bedah endodonsi)

4. Prostodonsia (Sp.Pros)
Menangani masalah ketiadaan gigi di rongga mulut, dengan menggantinya menggunakan gigi palsu. Baik gigi palsu lepasan, cekat maupun implant.

5. Periodonsia (Sp. Perio)
Menangani segala kelainan jaringan periodontal. Jaringan periodontal adalah jaringan yang mendukung gigi, termasuk gusi, dan jaringan tulang disekitarnya. Mencakup juga beberapa tindakan bedah yang disebut bedah periodontal. Contoh : perawatan peradangan gusi, kegoyahan gigi karena kerusakan jaringan tulang disekitarnya, tindakan operatif perawatan gusi yang naik (resesi) dan mengakibatkan terbukanya akar gigi

6. Pedodonsia (Sp.KGA)
Merupakan spesialis Kedokteran Gigi Anak, jelas berperan seperti dokter anak, untuk seluruh masalah gigi dan mulut pada anak-anak

7. Ortodonsia (Sp.Ort)
Merupakan salah satu spesialisasi yang sangat populer di masyarakat. Spesialisasi yang berkomepten merapikan susunan gigi yang tidak teratur. Yang menjadi trend adalah pemasangan bracket atau alat ortodonsi cekat.

Jadi… jangan salah lagi memilih dokter gigi.

Keywords: ortodonti, ortodontik, ortodonsia, ortodontis, orthodonti, orthodontic, orthodontist, maloklusi, malocclusion, crowded, tooth, teeth, oklusi, occlusion

Selengkapnya ......

Keberhasilan Perawatan Ortodonsi...

Tujuan perawatan ortodonsi atau kawat gigi cekat adalah menciptakan hubungan kontak sebaik mungkin dengan estetika wajah yang baik. Tentu, tujuan utama dari perawatan ortodonti adalah mendapatkan penampilan susunan gigi dan wajah yang menyenangkan, secara estetika dengan fungsi yang baik dan dengan gigi-gigi dalam posisi stabil.

Fungsi perawatan ortodonti ada dua macam yaitu untuk estetika dan mengembalikan fungsi yang tidak normal. Pada susunan gigi yang maju pada rahang atas ataupun rahang bawah, gigi yang tidak teratur.


Mengapa perawatan ortodonti/kawat gigi cekat itu penting?

Begitu pula gigi yang renggang meyebabkan senyum menjadi kurang menarik, sehingga berdampak pada sisi emosional yaitu menjadi tidak percaya diri. Disamping itu pada gigi yang tidak rapi proses pembersihannya sulit sehingga akan menyebabkan gigi berlubang, penyakit gusi, bahkan dapat menyebabkan gigi lepas.

Pada gigi belakang yang tidak kontak menyebabkan kesulitan pada waktu mengunyah. Sehingga makanan menjadi tidak lembut, terjadi gangguan pencernaan. Pada gigi depan yang tidak kontak atau gigitan terbuka menyebabkan gangguan fungsi berbicara, dimana tidak dapat mengucapkan vokal tertentu dengan jelas.

Pada kasus tersebut di atas apabila tidak dirawat akan menyebabkan penggunaan yang tidak normal pada permukaan gigi. Tidak efektifnya fungsi pengunyahan, tekanan yang berlebihan pada gusi dan tulang yang mendukung gigi atau gangguan sendi rahang, sakit kepala dan sakit pada wajah dan leher.

Sebagian besar orang berpikir, perawatan ortodonti/kawat gigi adalah untuk remaja, padahal waktu yang paling baik untuk mulai perawatan ortodonti/kawat gigi adalah umur 9 tahun. Bahkan American Association of Orthodontists (AAO) merekomendasikan anak-anak usia 7 tahun kontrol ke ortodontis ( dokter gigi spesialis ortodonti/kawat gigi).

Dokter gigi spesialis ortodonti/kawat gigi akan mendeteksi kelainan pada susunan gigi dan bentuk rahang sedini mungkin serta menentukan waktu yang tepat untuk perawatan ortodonti/kawat gigi , apakah perlu segera atau menunggu, kontrol periodik 3 bulan sekali. Perawatan ortodonti/kawat gigi apabila dimulai pada waktu yang tepat/sedini mungkin, perawatan menjadi lebih mudah dan akan menghasilkan yang lebih baik, walaupun perawatan ortodonti/ kawat gigi cekat dapat berhasil pada usia berapapun.

Keberhasilan perawatan ortodonsi

Untuk mencapai hasil perawatan ortodonti yang ideal tidak mudah, dipengaruhi banyak faktor. Faktor paling penting yang menentukan keberhasilan perawatan ortodonti/ kawat gigi adalah operator dimana dilakukan oleh seorang yang benar-benar ahli (dokter gigi yang sudah spesialis ortodonti/kawat gigi).

Kepandaian dokter gigi spesialis dalam menentukan diagnosa dan rencana perawatan, pengetahuan tentang biomekanik pergerakan gigi serta ketrampilan dalam melakukan perawatan dan yang tidak kalah penting adalah pengalaman adalah faktor penting keberhasilan perawatan ortodonti.

Keberhasilan juga merupakan kerja sama antara dokter dengan pasien. Pasien harus disiplin dalam hal waktu kontrol, selektif memilih makanan dan menjaga kebersihan mulut.

Perawatan ortodonti/kawat gigi sebetulnya tidak sakit, memang harus dilakukan oleh seorang yang benar-benar ahli. Dokter harus mengetahui reaksi biologis dari gigi dan jaringan sekitarnya terhadap tekanan mekanis dari alat ortodonti. Tekanan pada gigi harus konstan dan tidak melebihi tekanan kapiler darah, sehingga tidak menimbulkan rasa sakit dan kerusakan jaringan.

Sebagian pasien merasakan kurang nyaman saat braket/ alat ortodonti cekat dipasang. Setelah melewati masa adaptasi 3-5 hari, pasien akan terbiasa. Untuk mengatasi iritasi pada gusi ada semacam malam/karet yang ditempel pada braket, obat kumur dan obat-obatan yang diminum.

Susunan gigi dan bentuk rahang sangat berpengaruh terhadap bentuk wajah/ profil dan kesehatan seseorang. Susunan gigi yang rapi, rahang yang rata/normal membuat senyum yang indah sehingga kita menjadi lebih percaya diri. Tidak ada kata terlambat untuk perawatan ortodonti karena dapat dilakukan pada usia berapa pun dan tidak sakit.

Keywords: ortodonti, ortodontik, ortodonsia, ortodontis, orthodonti, orthodontic, orthodontist, maloklusi, malocclusion, crowded, tooth, teeth, oklusi, occlusion

Selengkapnya ......

Rapikan Susunan Gigi Anda...


Banyak orang memiliki susunan gigi yang tidak teratur, atau istilahnya kedokterannya maloklusi (malocclusion). Ada yang ‘tonggos' (protrusif) alias gigi rahang atasnya maju, ada pula yang giginya berjejalan (crowded teeth), atau sebaliknya kecil-kecil dan jarang (diastema).

Keadaan gigi tersebut bisa mengganggu penampilan seseorang. Penderitanya sering merasa rendah diri, minder dan enggan tersenyum. Tapi yang paling penting adalah hubungannya dengan kesehatan. Gigi yang berjejal menjadikannya sulit dibersihkan, sehingga gigi bisa berlubang (karies) atau terkena penyakit radang gusi (periodontitis). Bisa juga terjadi gangguan pengunyahan, yang menyebabkan sakit kepala atau nyeri leher. Maloklusi sebisa mungkin harus diperbaiki, bukan semata demi estetika, tapi juga kesehatan gigi.


Apakah gigi Anda bermasalah? Bila Anda mempunyai susunan gigi yang tidak rapi dan ingin membuatnya lebih teratur sehingga Anda lebih percaya diri, Anda dapat menjumpai dokter gigi spesialis ortodonsi (ortodontis/orthodontist): salah satu cabang kedokteran gigi yang spesialisasinya memperbaiki susunan gigi.

Ada beberapa macam alat yang biasa digunakan, selama ini kita sering menyebutnya behel (breket/bracket) atau kawat gigi. Mungkin Anda sering menjumpai orang mempunyai gigi dengan ‘pagar' kawat. Alat tersebut adalah braces, yaitu alat orthodontic cekat (fixed appliance). Alat ini hanya bisa dipasang dan dilepaskan oleh dokter gigi saja. Sedangkan retainer adalah alat orthodonti lepasan, yang bisa dilepas-lepas oleh pemakainya.

Alat ortodonti cekat mampu membuat pergerakan yang lebih kompleks dalam kesatuan deretan gigi, yang merupakan kelebihannya dibanding alat orthodonti lepasan (removable appliance), sehingga dapat lebih mempercepat proses teraturnya gigi Anda.

Pada masa awal perawatan, mungkin Anda akan merasakan sedikit nyeri, bila perlu minumlah obat pereda sakit. Yang harus diperhatikan, Anda membutuhkan waktu dua kali lebih lama untuk membersihkan gigi, karena selain membersihkan gigi, Anda juga membersihkan kawat giginya (wire). Bila sisa makanan mengumpul di sekitar alat, akan berisiko terjadinya gigi berlubang dan radang gusi. Meskipun jarang terjadi, alat bisa rusak atau longgar, sehingga melukai mulut. Jadi sebaiknya hindari makanan terlalu keras, lengket dan manis.

Untuk keberhasilan perawatan, tingkat keberhasilannya sampai 95 persen jika pasien kooperatif dalam memeriksakan keadaan giginya. Untuk kasus yang sulit, keberhasilannya hanya bisa mencapai 90 persen.

Besarnya biaya perawatan bervariasi, tergantung dari faktor kesulitan, lama perawatan serta alat yang digunakan. Biaya yang diperlukan relatif, ada yang menganggap besar ada pula yang tidak. Yang menganggap tidak karena ia berpikir bahwa gigi adalah investasi. Biaya yang cukup besar ini dikarenakan alatnya belum diproduksi di Indonesia, sehingga masih perlu diimpor dari Amerika Serikat.

Seiring dengan perkembangan zaman dan keinginan untuk tampil lebih cantik dengan senyum yang indah , saat ini penggunaan alat orthodonti cekat ini bukan lagi hanya untuk memperbaiki fungsi gigi, tetapi sudah menjadi aksesoris. Alat ortodonthi cekat inipun semakin berkembang. Brackets bisa terbuat dari berbagai bahan, yang banyak dipakai adalah yang terbuat dari baja, adapula yang terbuat dari emas, keramik dan tersedia dalam berbagai warna.

Yang terbaru adalah yang terbuat dari porselen berwarna transparan seperti warna gigi sehingga pemakaiannya tersamar. Harganya tentu lebih mahal, konsumennya adalah mereka yang ingin tampil lebih elegan. Karet warna-warni yang banyak menghiasi kawat gigi, berfungsi untuk mengencangkan bracket, selain itu juga memberikan kesan modis pada kawat gigi, sehingga lebih disukai para remaja.

Keywords: ortodonti, ortodontik, ortodonsia, ortodontis, orthodonti, orthodontic, orthodontist, maloklusi, malocclusion, crowded, tooth, teeth, oklusi, occlusion.

Selengkapnya ......

Kawat Pemanis Bikin Meringis ...

(Sumber: Koran Tempo, Rabu 4 Juni 2008)


Salah pasang kawat gigi bisa berefek gangguan kesehatan seumur hidup.

Ingin tampil manis dengan kawat gigi? Model ini tengah digandrungi remaja ataupun dewasa yang bermasalah dengan gigi. Kawat yang melintang di gigi itu tak lagi dilihat sebagai penghalang, tapi justru sebagai pemanis. Anda tak perlu terburu-buru, pertimbangkan baik-baik dokter gigi yang akan menanganinya sebelum menentukan hiasan pada kawat gigi. Sebab, kesalahan pemasangan kawat gigi (fixed appliance) tak hanya sulit diperbaiki lagi, tapi juga memicu gangguan kesehatan.

Hal ini diungkapkan Ketua Umum Ikatan Ortodontis Indonesia (Ikorti) Prof Dr Eky Soeria Soemantri, Sp.Ort. Ia mengatakan pengobatan yang salah bisa berbahaya bagi individu itu sendiri. "Jangan main-main, karena dampaknya bisa seumur hidup: kepala pusing-pusing, gangguan pada rahang, dan biasanya lebih sulit diperbaiki," Eky mengungkapkan dalam seminar Ikorti di Jakarta, Kamis lalu.


Dia mengatakan belum ada data pasien pemasangan kawat gigi yang menjalani prosedur pemasangan yang salah. Tapi Eky mengaku, setiap bulan dia selalu menerima pasien yang harus dirawat ulang akibat kesalahan dalam praktek ortodontis. "Setiap bulan saya menerima tiga hingga lima pasien dari sekitar 20 pasien yang mengalami salah perawatan. Sayangnya, kesalahan pengobatan ini baru akan dirasakan setelah bertahun-tahun," ujarnya.

Pemasangan kawat gigi memang dibutuhkan untuk memperbaiki kondisi oklusi yang tidak normal alias maloklusi (malocclusion), seperti rahang bawah terlalu maju (tonggos/protrusif)). Selain itu, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran, Bandung, ini menyebutkan, selama ini kondisi gigi berjejal (crowded teeth) sering hanya dianggap sebagai masalah yang mengganggu penampilan. Padahal gigi berjejal dan posisi rahang yang tidak harmonis bisa mengganggu kesehatan secara umum. Tapi, pada umumnya, pasien datang dengan keluhan estetika. "Jarang sekali pasien datang dengan keluhan sulit mengunyah," ujarnya.

Gangguan berupa kesulitan mengunyah dapat terjadi karena posisi gigi atau posisi rahang yang tidak harmonis sehingga timbullah gangguan. Eky menyebutkan, maloklusi yang tidak diperbaiki dengan tepat akan menyebabkan gigi berlubang (dental caries), penyakit gusi (periodontitis), kehilangan gusi dan kepercayaan diri, kesulitan mengunyah, dan permukaan gigi terkikis(atrisi). "Kondisi yang lebih berat bisa menyebabkan kerusakan pada sendi temporo mandibula (sendi antara tulang rahang dan tulang wajah) yang bisa menimbulkan sakit kepala terus-menerus atau masalah pencernaan," tuturnya.

Karena itu, bila kondisi ini dibiarkan lebih lama lagi, pasien bisa mengalami gangguan pada berat badan, sakit kepala yang sering, bahkan gangguan pencernaan. Yang paling ekstrem adalah timbulnya penyakit-penyakit sistemik, misalnya posisi gigi yang berjejal dapat menyebabkan bakteri berkembang biak di daerah-daerah yang sulit dijangkau sikat gigi.

Sebagian besar maloklusi merupakan faktor bawaan atau keturunan (herediter), dalam hal ini termasuk gigi berjejal, ruang atau celah antara gigi (multiple diastema), kelebihan atau kekurangan gigi, celah bibir dan langit (cleft lip and palate), serta kelainan pada rahang atau muka. Namun, kondisi tersebut juga bisa ditimbulkan oleh kebiasaan buruk dan faktor lain, semisal kebiasaan mengisap jari tangan sejak kecil (thumb sucking), kebiasaan menjulurkan lidah, atau kondisi pasca kecelakaan yang menyebabkan cedera pada muka (fraktur), kehilangan gigi terlalu dini (premature loss) atau gigi yang tidak pernah tanggal (persistensi), penyakit karies gigi, serta wajah tidak simetris.

Pengobatan oklusi haruslah tepat. Namun, minimnya pengetahuan masyarakat tentang kedokteran gigi kerap menimbulkan masalah. Tak sedikit ditemukan kasus malpraktek yang dilakukan oknum dokter gigi atau orang yang mengaku kompeten dalam bidang gigi. Untuk mengantisipasi itu, Eky menyarankan masyarakat lebih cermat memilih pelayanan pemasangan kawat gigi. "Banyak dokter gigi atau orang yang mengaku ahli gigi yang sebenarnya tidak kompeten melakukan pemasangan kawat gigi. Salah prosedur bisa membahayakan pasien. Jadi, berhati-hatilah memilih perawatan," ia menyarankan.

Agar tidak salah pilih, ada beberapa panduan sederhana yang bisa diikuti. Yang paling mudah, dokter yang memasang kawat gigi haruslah spesialis ortodontis (ortodontis/orthodontist) atau disingkat Sp.Ort. Ortodontis merupakan salah satu dari tujuh cabang kedokteran gigi, yang mencakup masalah pada oklusi. Untuk mendapat gelar itu, seorang dokter gigi harus mendapat pendidikan tambahan 3-4 tahun.

Keywords: ortodonti, ortodontik, ortodonsia, ortodontis, orthodonti, orthodontic, orthodontist, maloklusi, malocclusion, crowded, tooth, teeth, oklusi, occlusion.

Selengkapnya ......

Kebiasaan buruk dan gigi berjejal ...


Gigi perlu dirawat sejak dini agar anak tidak mengalami gangguan tumbuh kembang gigi, di samping mempertahankan keadaan gigi yang normal, sehingga saat dewasa memperoleh oklusi gigi yang harmonis, fungsional, dan estetis. Kebiasaan mengemut makanan, minum susu dalam botol dot menjelang tidur, mengisap jari, dan penyakit talasemia merupakan beberapa faktor penyebab gangguan pertumbuhan gigi.


Oklusi (occlusion) adalah hubungan kontak antara gigi geligi bawah dengan gigi geligi atas waktu mulut ditutup. Oklusi dikatakan normal, jika susunan gigi dalam lengkung geligi teratur baik serta terdapat hubungan yang harmonis antara gigi atas dengan gigi bawah, hubungan seimbang antara gigi dan tulang rahang terhadap tulang tengkorak dan otot di sekitarnya, serta ada keseimbangan fungsional sehingga memberikan estetika yang baik.

Dalam tahap pertumbuhan gigi dan perkembangan oklusi, khususnya periode transisi pergantian gigi sulung ke gigi permanen, banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan lengkung gigi. Maloklusi bukan penyakit melainkan keadaan morfologik yang menyimpang dari oklusi normal dan standar estetika pada kelompok etnik tertentu.

Karies gigi sulung menyebabkan gigi tanggal terlalu awal (premature loss). Pergeseran gigi di sebelahnya menyebabkan penyempitan ruang pada lengkung gigi. Akibatnya, gigi permanen tidak memperoleh ruang cukup dan akan tumbuh dengan susunan gigi berjejal (crowded teeth).

Talasemia

Faktor lingkungan yang dapat menyebabkan maloklusi mencakup penyakit, status nutrisi, dan kebiasaan oral. Salah satu contoh penyakit yang dapat menyebabkan maloklusi adalah talasemia. Talasemia adalah penyakit kelainan darah yang diturunkan. Tubuh penderita tidak dapat membentuk hemoglobin dalam jumlah cukup. Selain itu, sel darah merah pecah sebelum waktunya sehingga penderita mengalami anemia berat.

Akibat anemia hemolitik, anak talasemia mengalami hambatan tumbuh kembang fisik (berat dan tinggi badan kurang) serta hambatan pertumbuhan tulang penyangga gigi. Rahang bawah pendek sehingga muka bagian atas tampak maju. Pertumbuhan vertikal juga terganggu sehingga tampak divergen, muka lebih cembung. Wajah tidak proporsional, pipi lebih tinggi, jarak kedua mata lebih lebar. Dalam kaitan itu, untuk mencegah gangguan pertumbuhan tulang dan gigi, anak perlu mendapat tranfusi darah terus-menerus agar tidak anemia.

Kebiasaan minum susu dengan botol dot menjelang tidur, bisa menyebabkan karies gigi. Laktosa dan sukrosa dalam sisa susu yang tergenang di mulut sepanjang malam, akan mengalami proses hidrolisa oleh bakteri plak menjadi asam yang kemudian melarutkan email gigi. Demineralisasi ini tidak terjadi di permukaan, melainkan di subsurface (lapisan di bawah permukaan gigi).

Permukaan gigi tampak utuh, tetapi sebenarnya lapisan di bawahnya telah larut. Demineralisasi awal tampak seperti bercak putih di gigi. Lama-lama kecoklatan, kemudian berlubang.

Untuk mengatasi, plak yang merupakan media bakteri dan sukrosa untuk menempel ke gigi dibersihkan, kemudian gigi diberi lapisan fluor untuk remineralisasi. Anak sebaiknya tidak minum susu sambil tiduran, dan minum air putih setelah minum susu. Kalau terpaksa, begitu anak tertidur, botol dot harus segera diambil dan mulut anak dikeringkan. Akibat serupa bisa terjadi pada anak yang punya kebiasaan mengemut makanan.

Gosok gigi harus dibiasakan begitu gigi mulai tumbuh. Namun, disarankan, anak di bawah tiga tahun tidak menggunakan pasta gigi, karena belum mampu berkumur—kemungkinan pasta gigi tertelan.

Pasta gigi mengandung fluor. Fluor dalam jumlah yang tepat memang membantu pertumbuhan gigi, tetapi kelebihan fluor menyebabkan dental fluorosis atau gangguan struktur email gigi. Ada bagian email yang hilang, karena mengganggu pembentukan email. Akibat struktur email lemah, rapuh, dan mudah erosi.

Keywords: ortodonti, ortodontik, ortodonsia, ortodontis, orthodonti, orthodontic, orthodontist, maloklusi, malocclusion, crowded, tooth, teeth, oklusi, occlusion.

Selengkapnya ......

Maloklusi pada anak ...

Waspadai jika gigi anak tidak tumbuh beraturan dan cenderung berjejal (crowded teeth). Gangguan ini dapat menurunkan kemampuan mereka dalam berbicara dan menggigit.

Orangtua manapun pasti menginginkan buah hatinya tumbuh menjadi seorang anak yang baik, pintar dan berpenampilan menggemaskan plus memiliki senyuman menarik dengan barisan giginya yang putih nan rapih. Namun bagaimana bila kondisi yang terjadi sebaliknya? Supaya gigi anak tampak rapi, gigi harus tumbuh di tempat yang tepat. Tetapi, tidak jarang, kebanyakan anak-anak kini ditemui memiliki gigi yang tumbuh tidak teratur. Sehingga, menyebabkan posisi gigi-gigi tersebut menjadi berjejal. Dalam istilah medisnya situasi seperti ini disebut dengan maloklusi (malocclusion).


Anak-anak yang mengalami maloklusi memiliki gigi dan rahang yang tebentuk tidak teratur. Pengertian dari maloklusi adalah terjadinya hubungan yang tidak sesuai atau tidak pas pada gigi geligi di saat rahang atas dan rahang bawah bertemu.

Apabila anak Anda mengalami gangguan ini, sebaiknya Anda tak dapat menggangapnya sepele, karena jika tidak ditanggulangi semenjak dini, maloklusi mampu menurunkan kemampuan gigi anak untuk mengigit. Akibatnya anak tidak terbiasa memakan makanan yang sedikit keras. Sehingga pada tahap selanjutnya, otomatis dapat terjadi gangguan makan, karena gigi tidak dalam posisi yang benar sehingga kekuatannya menjadi berkurang. Maloklusi parah menyebabkan anak menjadi susah berbicara. Kondisi rahang dan gigi yang berantakan tersebut menyebabkan anak sulit mengucapkan beberapa huruf atau kata-kata tertentu.

Gejala Awal Maloklusi Pada Anak

Orang tua perlu mengetahui gejala awal dari gangguan ini. Di antaranya adalah gigi sering tumbuh di tempat yang salah, mengakibatkan gigi atas dan gigi bawah tidak bertemu dengan semestinya.

Bila Anda menemukan gejala seperti tersebut di atas, secepatnya segera membawa si kecil ke dokter gigi langganan keluarga. Untuk lebih detil dalam mengetahui kondisi gigi anak, mintalah dokter untuk melakukan sejumlah pemeriksaan. Yaitu, lakukanlah pemotretan gigi dan rahang dengan menggunakan sinar X atau rontgen. Bila diperlukan, dokter akan membuat model gips dari gigi (dental cast) dan rahang agar dapat menentukan tindakan berikut yang paling tepat demi memperbaiki kondisi gigi.

Penyebab Maloklusi
Penyebab kelainan bentuk gigi pada anak ini, adalah sebagai berikut:

1. Kebiasaan buruk (bad habit)
Kebiasaan buruk yang dimaksud adalah mengedot, menghisap jari/bibir, menyikat gigi dengan gerakan dan arah yang salah, sehingga terjadi pembusukan pada gigi yang akhirnya menyebabkan gigi berlubang.

2. Gigi berjejal (crowded teeth)
Gigi yang tumbuh dengan kondisi dempet dan tidak teratur susunannya. Hal ini disebabkan bila seorang anak dicabut sebelum waktunya dan menyebabkan keompongan dan akhirnya rahang tidak berkembang. Kondisi ini menyebabkan tempat tumbuhnya gigi tetap menjadi berkurang untuk mendapatkan posisi yang cukup.

3. Genetika (genetics)
Misalnya, ibu yang memiliki gigi kecil dan bapak yang memiliki rahang yang besar, cenderung akan memiliki anak dengan rahang kecil dan giginya besar, otomatis menyebabkan gigi berjejal.

4. Trauma

Benturan keras pada mulut dan mencenderai rahang serta gigi, juga merupakan penyebab terjadinya maloklusi.


Tips-tips mencegah maloklusi

Segera konsultasikan ke dokter gigi, bila ada melihat terdapatnya gejala-gejala awal maloklusi pada anak. Selanjutnya dokter akan menindaklanjuti dengan memberikan perawatan pemakaian kawat gigi (fixed appliance). Namun, hal tersebut juga tergantung dari umur si anak.
Menyikat gigi dua kali sehari. Sesudah makan pagi dan sebelum tidur di malam hari.
Kurangi pengonsumsian makanan-makanan yang manis.
Secara rutin periksakan gigi setiap enam bulan sekali.

Keywords: ortodonti, ortodontik, ortodonsia, ortodontis, orthodonti, orthodontic, orthodontist, maloklusi, malocclusion, crowded, tooth, teeth, oklusi, occlusion.

Selengkapnya ......

Maloklusi dan pengucapan ...

Maloklusi (malocclusion) adalah suatu kelainan susunan gigi geligi atas dan bawah yang berhubungan dengan bentuk rongga mulut serta fungsinya. Maloklusi kelas II (distoklusi) atau gigi atas lebih ke depan daripada gigi bawah akan terjadi distorsi atau penggantian suara bibir p, b, dan m sehingga apabila berbicara akan mengatupkan bibir bawah dan atas bersama-sama. Sementara itu, pada maloklusi kelas III (mesioklusi) atau gigi di rahang atas berada di belakang gigi di rahang bawah akan mengakibatkan distorsi pembicaran dan posisi antargigi untuk suara s, z, t, l, dan n.


Bicara merupakan satu cara menentukan bahasa, di antaranya dengan cara menulis, gerak tangan, dan tanda. Yang termasuk atribut bicara adalah nada suara, kekerasan dan kualitas suara, huruf hidup, huruf mati, diftong, dan campuran dari segalanya menjadi silabus kata-kata, kecepatan bicara, tekanan kata-kata, dan irama.

Proses perkembangan berbicara dan berbahasa pada bayi dan anak tidak bisa berjalan dengan sendirinya. Perlu adanya proses pembelajaran, seperti diajaknya bicara pada bayi dan anak sehingga anak mampu berkata-kata meskipun kedengaran belum begitu jelas. Oleh karena itu, anak yang terganggu pendengarannya biasanya tidak bisa bicara. Proses bicara merupakan aktivitas yang terkoordinasi antara kontraksi otot-otot pernafasan, laring, paring, palatum (langit-langit), lidah, bibir, dan gigi serta dipersarafi sistem saraf pusat.

Bicara adalah membuat dan mengelola suara menjadi simbol-simbol. Terjadinya simbol-simbol ini merupakan hasil kerja sama beberapa faktor, yaitu

- Respirasi (aliran udara) adalah diawalinya proses bicara. Dalam keadaan normal agar dapat terbentuk suara (phonasi), alat pernapasan mengalirkan udara dengan jumlah dan tekanan yang cukup.

- Phonasi adalah suara yang dihasilkan dari aliran udara keluar melalui laring, di dalam laring pita suara mengubah aliran udara ini. Dengan cara mengatur kedua pita suara (kiri dan kanan) dan juga mengatur jaraknya, terbentuk suatu celah sempit yang besar dan konturnya bervariasi sehingga menimbulkan tahanan terhadap aliran udara. Tahanan ini menyebabkan udara bergelombang sehingga timbul bunyi/suara. Suara ini disebut dengan suara laring (suara vokal).

- Resonansi adalah yang memberikan kualitas karakteristik pada bunyi gelombang suara yang ditimbulkan pita suara. Organ-organ yang berfungsi sebagai resonator adalah sinus-sinus, permukaan organ-organ, rongga paring, rongga mulut, rongga dinding, rongga dada. Suara laring yang telah mengalami resonansi ini masih belum merupakan suara bicara seperti apa yang kita dengar.

- Artikulasi (pengucapan) bertugas memodifikasi suara-suara laring tadi dan juga membentuk suara-suara baru dalam rongga mulut. Beberapa jenis konsonan yang terbentuk setelah mengalami artikulasi:

a. Suara bilabial (bibir dengan bibir): m, p, b.

b. Suara labiodental (bibir dengan gigi): f, v.

c. Suara linguodental (lidah dengan gigi): t, s, th

d. Suara linguopalatal (lidah dengan langit-langit): r, l.

e. Suara linguoapikoalveolar: n, d.

f. Suara glotis: h

Apabila tidak ada peranan artikulasi dalam pembentukan suara, yang timbul suara-suara vokal saja.

- Integrasi neurologik (koordinasi sistem-sistem saraf) yang dikoordinasi sistem saraf pusat. Faal bicara diatur dengan proses belajar dengan cara pengalaman, pendengaran, pengelihatan, dan perkembangan sistem saraf pusat. Apabila dalam faal bicara berlawanan dengan fungsi vital lainnya dari struktur maksilofasial, yang akan menderita adalah faal bicara, contohnya berbicara terpaksa berhenti segera apabila terjadi refleks penting seperti batuk, bersin, cegukan, dan muntah.

Evaluasi perkembangan bicara pada anak berpedoman pada penguasaan huruf mati yang sesuai dengan umur seperti terlihat di bawah ini:

Faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan kecakapan dan komunikasi pada anak adalah faktor-faktor keadaan, lingkungan, dan emosi anak. Apabila faktor tersebut tidak ada salah satu, perkembangan komunikasi anak akan terlambat.

Kelainan pada gigi dan mulut akan memengaruhi kejelasan bicara dan bahasa akibat adanya penyakit, gangguan atau kelainan fisik, psikis atau sosiologis. Kelainan dapat timbul pada masa sebelum lahir, saat lahir, dan masa setelah lahir yang dapat bersifat herediter (keturunan), kongenital atau dapatan.

Kelainan yang dapat memengaruhi kejelasan bicara dan bahasa adalah:

- Palatosisis (celah langit-langit), labiosisis (celah bibir) dan palatolabiosisis (celah komplit). Kelainan ini akan mengakibatkan pembicaraan menjadi sengau dan serak, suara tidak jelas, volume berkurang, sulit mengucapkan konsonan frikatif (bunyi desah), dan konsonan mati lebih sering mengalami kesalahan pengucapan.

- Kehilangan gigi atau ompong akan mengakibatkan ketidakjelasan bicara f, v, t, s, n, dan d. Pada anak-anak yang kehilangan gigi belum waktunya akan memengaruhi perkembangan bicara.

- Kelainan bentuk dan struktur organ bicara yang sering terlihat pada kelainan lidah dan palatum (langit-langit) yang memengaruhi ketelitian, rentang, dan kecepatan gerakan lidah yang mengakibatkan kesulitan bicara l, t, d, n, s, z, dan kesalahan dalam proses penelanan. Kelainan ini sering terjadi karena adanya kebiasaan buruk, seperti mengisap jari, bernapas melalui mulut, menggigit bibir, menggigit pensil dan kuku, atau adanya tonsil dan adenoid yang memengaruhi gerakan lidah.

Untuk menghindari ketidakjelasan bicara dan bahasa ini, bisa dilakukan sejak dini apabila orang tua dan tentunya dokter gigi (dentist) mengetahi adanya kelainan pada gigi dan mulut anak. Oleh karena itu, orang tua harus memperhatikan perkembangan bicara dan bahasa anak serta perkembangan gigi dan mulut pada anak.

Keywords: ortodonti, ortodontik, ortodonsia, ortodontis, orthodonti, orthodontic, orthodontist, maloklusi, malocclusion, crowded, tooth, teeth, oklusi, occlusion.

Selengkapnya ......